Diplomasi Antariksa Indonesia: Upaya Mengamankan Kedaulatan Di Tengah Kompetisi Astropolitik Dan Ancaman Militerisasi
DOI:
https://doi.org/10.54706/senastindo.v7.2025.449Kata Kunci:
Diplomasi Antariksa, Otonomi Antariksa, Keamanan NasionalAbstrak
Ruang angkasa kini telah bergeser dari domain eksplorasi ilmiah menjadi arena kompetisi strategis yang diwarnai oleh perlombaan senjata dan rivalitas regional. Indonesia, sebagai negara berkembang di garis khatulistiwa, menghadapi dilema ganda: ketergantungan mutlak pada teknologi satelit asing untuk pembangunan infrastruktur, namun pada saat yang sama rentan terhadap dampak militerisasi ruang angkasa, seperti ancaman senjata anti-satelit (ASAT) dan puing orbital. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk menganalisis strategi diplomasi antariksa Indonesia dengan mengintegrasikan konsep Strategic Restraint, Space Autonomy, dan teori Late Development. Melalui analisis mendalam terhadap dinamika regional yang melibatkan Tiongkok, India, dan Jepang, makalah ini berargumen bahwa diplomasi Indonesia bukan sekadar respons pasif, melainkan sebuah upaya aktif membangun rezim keamanan melalui diversifikasi mitra teknologi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa Indonesia memanfaatkan posisinya sebagai late developer secara pragmatis untuk mengamankan akses Orbit Geostasioner (GSO) dan melindungi kedaulatan informasi nasional dari hegemoni kekuatan besar.
Unduhan
Referensi
Boothby, B., et al. (Eds.). (2022). The Woomera Manual on the International Law of Military Space Operations. Oxford: Oxford University Press. (Sumber otoritatif untuk analisis hukum mengenai definisi serangan antariksa dan status satelit dual-use).
Harding, R. C. (2012). Space Policy in Developing Countries: The Search for Security and Development on the Final Frontier. London: Routledge. (Menyediakan kerangka teoretis mengenai "Otonomi Antariksa" bagi negara berkembang).
Moltz, J. C. (2011). Asia's Space Race: National Motivations, Regional Rivalries, and International Risks. New York: Columbia University Press. (Sumber data primer mengenai dinamika Action-Reaction di Asia, teori Late Development, data peluncuran satelit Palapa, dan kerja sama Indonesia-India).
Moltz, J. C. (2011). The Politics of Space Security: Strategic Restraint and the Pursuit of National Interests. Stanford: Stanford University Press. (Landasan konseptual untuk strategi Strategic United Nations. (1967).
Treaty on Principles Governing the Activities of States in the Exploration and Use of Outer Space, including the Moon and Other Celestial Bodies. (Landasan hukum internasional mengenai Peaceful Uses).
Union of Concerned Scientists. (n.d.). ASAT Weapons: Kinetic Energy & Co-orbital Threats. (Data teknis mengenai dampak lingkungan/puing orbital dari uji coba senjata kinetik).
United Nations Office for Disarmament Affairs (UNODA). (2024). Transparency and Confidence-Building Measures in Outer Space Activities. (Relevan untuk analisis diplomasi normatif Indonesia di Lele, A. (2013).
Asian Space Race: Rocking the Cradle. Institute for Defence Studies and Analyses (IDSA). (Analisis pendukung mengenai respons militer India terhadap Tiongkok).
Pekkanen, S. M. (2020). Critical Infrastructure and the Satellite Security Dilemma. Asia Policy. (Analisis mengenai kerentanan infrastruktur satelit sipil terhadap ancaman militer).
Sheehan, M. (2007). The International Politics of Space. London: Routledge. (Referensi tambahan mengenai konsep astropolitik dalam Hubungan Internasional).
Unduhan
Diterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Kategori
Lisensi
Hak Cipta (c) 2025 Adi Putra Buana

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.